Senyuman, Bikin Bahagia dan Kreatif


Kapan pun Anda merasa sedang tak bersemangat, bertengkar dengan pasangan, atau pagi-pagi harus bersiap untuk pekerjaan yang tak terlalu Anda nikmati, biasanya kita akan sulit untuk tersenyum.

Padahal, seulas senyuman akan membuat kegembiraan muncul baik dari dalam mau pun luar diri Anda. Kekuatan terbesar ada pada senyum, selama Anda mau membaginya pada lingkungan.

Ada sebelas alasan mengapa tersenyum amat baik dilakukan, meskipun Anda merasa tak memerlukannya atau sedang dalam suasana hati yang buruk.

Memperbaiki suasana hati
Ekspresi wajah mampu bercerita lebih dari deretan kata-kata. Ini karena ekspresi memiliki kemampuan mempengaruhi suasana hati Anda. Emosi memang dihasilkan oleh otak, namun otot pada wajah yang akan menampilkan perasaannya. Penelitian terbaru membuktikan, dengan adanya peningkatan emosi positif melalui ekspresi wajah, suasana hati seseorang mulai menyelaraskan dengan apa yang ditunjukkan.

Senyum palsu juga bisa berpengaruh
Beberapa penelitian yakin bahwa manfaat senyum hanya bisa diperoleh dari ekspresi tulus rasa bahagia.  Tetapi, menurut sebuah studi, senyum yang dipaksa juga bisa membuat Anda gembira. Anda hanya perlu tersenyum dalam waktu singkat, walaupun Anda sulit mengusahakannya. Sedikit memaksakan untuk tersenyum, tak ada salahnya bukan?

Mengurangi stres
Dalam sebuah penelitian tahun 2012, sebanyak 170 orang diminta menahan sumpit di mulutnya dalam tiga formasi. Ketika para partisipan melakukannya, banyak di antara mereka tersenyum tanpa disadari setelah melakukan tugas yang berat. Penelitian itu menunjukkan, orang yang tersenyum paling lebar mengalami pengurangan substansial dalam denyut jantung dan pemulihan stres lebih cepat daripada yang tidak terlalu banyak berekspresi.

Senyum membuat Anda lebih mudah didekati
Ini sudah jelas. Bagaimana orang bisa memulai interaksi jika Anda tampak cemberut. Wajah yang dihiasi senyuman akan terlihat bersahabat dan lebih disukai. Penelitian terhadap karyawan juga menunjukkan, mereka yang tersenyum terlihat lebih kompeten.

Tampak lebih terpercaya
Dari sisi psikologi, orang yang tersenyum terlihat lebih terpercaya daripada orang yang merengut atau tidak berekspresi. Dalam penelitian di Universitas Pittsburgh AS, peneliti menggali potensi hubungan antara tingkat daya tarik, intensitas senyum, dan tingkat kepercayaan dari model. Dari 45 model yang diteliti, terbukti makin lebar senyum seorang model, mereka makin terlihat lebih terpercaya.

Senyum melatih otak
Otak secara alami cenderung untuk berpikir negatif sebagai mekanisme pertahanan. Namun, senyum dapat membantu pikiran lebih positif. Menurut penulis "The Happines Advantage" Shawn Achor, dengan tersenyum setiap hari otak akan menciptakan kebahagiaan yang mampu mendorong pikiran positif. "Kebahagiaan adalah etos kerja. Hal itu diperlukan otak untuk berlatih," ujar Achor.

Senyum itu menular
Seringkah Anda melihat teman Anda membalas ketika Anda tersenyum? Ternyata hal itu ada penjelasannya. Menurut ahli neurosains Marco Iacoboni, manusia memiliki sesuatu yang disebut cermin neuron. Sel-sel premotor cortex dan inferior parietal cortex aktif ketika kita bertindak, serta saat menyaksikan orang lain melakukan sesuatu. Ketika tersenyum, cermin neuron menanggapinya.

Memperkuat tubuh pada tingkatan sel
Tersenyum dapat melepas ketegangan pada tingkat sel, menurut ahli biokimia Sondra Barrett. Dalam bukunya, "Secrets of Your Cells", Barrett menjelaskan bagaimana sel dapat membedakan rasa aman dan bahaya, lalu menemukan dan memperbaiki masalah serta menciptakan keseimbangan dalam tubuh.

Ia juga menekankan apa yang kita pikirkan dapat memberi efek langsung pada fungsi sel. Ketika tersenyum, Anda dapat mengurangi kekakuan sel. Relaksasi fisik ini dapat melawan risiko mutasi sel karena stres, yang bisa memicu pertumbuhan berbagai jenis kanker.

Meningkatkan produktivitas
Mulailah pekerjaan dengan tersenyum, sehingga kebahagiaan saat bekerja akan terdongkrak. Pada tahun 2010, sebuah tim peneliti ekonomi menemukan bahwa kebahagiaan memiliki efek signifikan terhadap kinerja karyawan di tempat kerjanya. Seiringan dengan energi positif yang dipancarkan, energi negatif pun akan berkurang.

Senyum dapat membuat Anda lebih kreatif
Energi positif ini dapat meningkatkan kreativitas Anda. Sebuah penelitian mengungkapkan, mereka yang bahagia memiliki pendekatan yang lebih komprehensif dalam memikirkan solusi, lebih dari rekan mereka yang berpikiran negatif terhadap suatu masalah. Para peneliti menghubungkan temuan ini dengan pelepasan dopamin yang dipicu oleh kebahagiaan.Karena neurotransmitter terlibat dalam pembelajaran, pengolahan, dan pengambilan keputusan.

Senyum itu gratis!
Ini adalah salah satu hal yang mampu mencerahkan suasana hati Anda tanpa memerlukan biaya. Jadi, manfaatkan kekuatan dalam diri Anda untuk menciptakan kebahagiaan.





Sumber :

Manakah Negara Paling Bahagia di Dunia?



Kita semua memimpikan hidup yang panjang dan bahagia di lingkungan yang bersih, teratur, dan udaranya bersih. Sebenarnya, di manakah tempat yang paling membuat bahagia di dunia?

Sebuah indeks dari 151 negara di dunia mengungkapkan secara jelas bagian dunia mana yang memberikan kehidupan yang panjang dan bahagia bagi warga negaranya.

Hasilnya mungkin akan mengejutkan Anda, Kosta Rika, Kolombia dan Vietnam berada di peringkat teratas dalam  kompetisi tersebut. Indonesia sendiri berada di urutan ke-15. Sedangkan Inggris menempati posisi ke-44,  lebih tinggi dibandingkan Jerman (47), Spanyol (62), Kanada (65), Australia (76) dan AS (105).

Peta tersebut disusun oleh situs relokasi Movehub yang menggunakan data dari Happy Planet Index (HPI), sebuah pengukuran global kesejahteraan yang berkelanjutan.

Paramater pengukuran tersebut memang bukan hanya kekayaan, tapi sejauh mana negara tersebut memberikan harapan hidup yang baik, bahagia, jejak ekologis.

Dalam peta dunia yang ditampilkan, ukuran itu dibuat sesuai dengan lampu lalu lintas, hijau untuk prestasi baik, kuning untuk nilai mengenah dan merah berarti buruk. Dalam pengumpulan data ini peneliti meminta secara langsung  pandangan orang di tiap negara.

Berikut adalah tiga komponen yang dinilai:

Kesejahteraan:  Dalam parameter ini responden diminta membayangkan harapan hidup di sebuah negara tersebut seperti halnya meniti anak tangga. Di mana 0 mewakili kehidupan yang terburuk dan 10 kehidupan terbaik.

Harapan hidup: Di samping kesejahteraan , Happy PIanet Indeks juga memasukkan ukuran universal penting dari kesehatan dan harapan hidup. Peneligi menggunakan data harapan hidup dari UNDP Laporan Pengembangan Manusia pada 2011.

Jejak ekologis : HPI menggunakan jejak ekologis yang dipromosikan oleh badan amal lingkungan (WWF) sebagai ukuran konsumsi sumber daya. Ini adalah ukuran per kapita dari jumlah lahan yang dibutuhkan untuk mempertahankan pola konsumsi suatu negara.

Dua dari ketiga faktor tersebut mengarah langsung pada kebahagiaan. Sementara jejak ekologis dianggap sebagai keberkelanjutan, yaitu apakah suatu negara dapat menjaga warga negaranya tanpa bantuan dari luar.

Peta itu juga tidak memperhitungkan ukuran internal ketidaksetaraan dan isu-isu hak asasi manusia di mana beberapa negara seperti Suriah, Irak dan Arab Saudi mempunyai angka yang sangat tinggi.

Sumber : http://health.kompas.com/read/2014/11/22/160000223/Manakah.Negara.Paling.Bahagia.di.Dunia.

Bahagia Bermula dari Pikiran




Setiap manusia pasti ingin bahagia. Namun, setiap orang memiliki persepsi berbeda tentang bahagia, demikian pula cara untuk menjadi bahagia. Meski tak mudah untuk selalu merasa bahagia, seseorang bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri karena dari otaklah kebahagiaan seseorang bermula.

Awal Februari lalu, Badan Pusat Statistik meluncurkan Indeks Kebahagiaan Indonesia 2014. Survei itu mengukur tingkat kepuasan hidup warga yang bisa dipakai untuk mengukur kesejahteraan warga. Hasilnya, orang Indonesia lebih puas dengan keharmonisan keluarga, keamanan, kondisi lingkungan, serta hubungan sosial yang mereka miliki. Namun, kepuasan terhadap pendidikan, pendapatan, papan, pekerjaan, dan kesehatan rendah.

Berdasarkan karakteristik demografi dan ekonomi warga, kelompok masyarakat paling bahagia adalah mereka yang tinggal di kota, perempuan, belum menikah, berusia 25-40 tahun, berpendidikan magister atau doktor, dan berpendapatan paling tinggi.

Indeks kebahagiaan juga dibuat secara global untuk menilai kesejahteraan masyarakat dunia. Selama ini, pembangunan ekonomi yang mengurangi kemiskinan dianggap sebagai pemicu utama kebahagiaan masyarakat. Kenyataannya, faktor ekonomi tak selalu menentukan.

Indeks Kebahagiaan Dunia (World Happiness Report) 2013 yang disusun Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN SDSN) menunjukkan, dari 156 negara yang disurvei, masyarakat paling bahagia adalah warga Skandinavia dan Eropa Barat. Tingkat kebahagiaan warga di negara-negara adidaya ekonomi tak terlalu tinggi.

Selain disusun berdasarkan indeks kebahagiaan tiap negara, survei global itu digabungkan dengan angka harapan hidup sehat, persepsi atas korupsi, pendapatan per kapita, kebebasan berpendapat, dukungan sosial, dan kedermawanan.

Persepsi

Kehadiran indeks kebahagiaan itu menimbulkan pro kontra. Indeks yang diharapkan bisa mengukur mutu manusia lebih utuh dibandingkan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) itu dianggap masih terlalu menekankan aspek ekonomi dalam mengukur kebahagiaan manusia sebagai tujuan pembangunan. Terlebih, kebahagiaan bersifat fluktuatif dan sulit diukur.

”Berbagai riset menunjukkan, kepemilikan materi tak berkait langsung dengan kebahagiaan. Namun, berbagai riset konsisten menunjukkan kelompok mampu lebih bahagia dibanding yang kekurangan,” kata peneliti Pusat Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Rahmat Hidayat, Kamis (12/2).

Dalam mengukur kebahagiaan, faktor materialistik tak bisa diabaikan. Namun, itu bukan satu-satunya faktor penentu kebahagiaan seseorang.

Kebahagiaan diri ditentukan rujukan yang digunakan. Pemilihan rujukan amat bergantung pada cara kita menilai apa yang ada pada diri dan lingkungan serta apa yang kita miliki. ”Makin kompleks lingkungan tempat tinggal, kian banyak pembanding yang bisa jadi rujukan. Itu membuat seseorang rentan kurang bahagia,” katanya.

Faktor rujukan itu membuat mereka yang tinggal di negara- negara kecil, pulau terpencil, dan daerah tertinggal bisa merasa bahagia. Namun, adanya teknologi khususnya televisi membuat kadar bahagia mereka berkurang karena melimpahnya pasokan referensi kebahagiaan.

Shutterstock /Ilustrasi

Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi yang juga Sekretaris Jenderal Masyarakat Neurosains Indonesia Taufiq Pasiak mengatakan, kebahagiaan terkait rasa hati, bagaimana seseorang melihat ke dalam diri. Adapun kepuasan yang jadi acuan penyusunan indeks kebahagiaan justru mendorong seseorang melihat keluar diri.

Kebahagiaan yang ditakar dengan hal-hal ekonomi tak bertahan lama. Menurut Taufiq, mengutip penelitian Sonja Lyubomirsky dari Universitas California Riverside, Amerika Serikat, kenaikan jabatan hanya memberi kebahagiaan tiga bulan. Setelah itu, rasa tak bahagia akan muncul karena menginginkan jabatan lebih tinggi.

Kemampuan seseorang menilai diri yang jadi kunci rasa bahagia amat dipengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Konsep bahagia berdasarkan kemampuan berpikir itu banyak diajarkan dalam filsafat, agama, dan budaya Timur. Cara pandang itu membuat kebahagiaan lebih bermakna filosofis dan teologis.

Karena itu, kebahagiaan amat terkait kemampuan otak. ”Kebahagiaan ditentukan kemampuan berpikir seseorang, bagaimana dia mempersepsi dan menafsirkan sesuatu,” ucap Taufiq.

Seseorang yang bahagia tecermin dari ketenangan dalam hidupnya, tangguh menghadapi tiap tekanan dan cobaan. Ia juga memiliki kehidupan spiritual baik yang membuatnya mampu bersyukur, sabar, dan ikhlas.

Budaya

Selain referensi dan kemampuan melihat diri, faktor budaya menentukan kebahagiaan seseorang. Sebagian kultur menekankan kepemilikan materi sebagai ukuran kebahagiaan. Namun, ada pula budaya yang mengajarkan untuk menerima apa adanya, menjadikan diri sendiri sebagai referensinya.

Dalam konteks berbangsa, Rahmat menilai, pandangan budaya yang menerima apa adanya tak mendukung usaha menjadikan bangsa kompetitif, berorientasi prestasi, dan tak pernah puas atas apa yang dicapai. Namun, konsep itu berisiko meningkatkan depresi warganya.

Karena itu, keseimbangan jadi kunci hidup bahagia. Mengejar materi berlebih tak salah asal diimbangi kehidupan sosial dan keluarga. ”Kebahagiaan hakiki adalah saat seseorang merasa diterima atau memberi manfaat bagi orang lain,” ujar Taufiq.





Sumber :

Relung Sisi Banyuwangi


GARA-gara Pantai Plengkung, yang terletak di area Taman Nasional Alas Purwo, nama Banyuwangi, Jawa Timur, dengan segera merangsek dalam daftar destinasi wisata di dunia. Utamanya para peselancar yang selalu haus menaklukkan ombak. Di Plengkung atau yang juga disebut G-Land, dahaga itu pun terpuaskan.

Gulungan ombak di Plengkung dianggap ideal bagi para peselancar profesional sehingga kerap menjadi arena kompetisi selancar angin profesional. Para peselancar dari berbagai penjuru dunia lebih dulu menjadikannya tempat berlabuh sebelum akhirnya traveling juga merambah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda Indonesia. Menyingkap satu demi satu sudut wajah Banyuwangi dan terus menambah tempat destinasi baru di tempat yang dulunya tak lebih dianggap sebagai tempat transit dari Jawa ke Bali.

Selalu ada kisah petualangan di balik setiap perjalanan menuju obyek wisata di Banyuwangi. Tak heran jika kota ini masuk dalam bucket list idaman para traveler. Khususnya mereka yang menyukai destinasi ekowisata dengan perjalanan penuh tantangan dan membetik adrenalin. Meski kerap membutuhkan perjalanan darat yang panjang dan berjalan kaki jauh hingga berpeluh, semua akan terbayarkan setelah melihat pemandangan alam cantik di depan mata.

Wujud kecantikan yang ingin disimak pun bisa dipilih. Pemandangan api biru di danau belerang Kawah Ijen seolah melompati waktu dan ruang di Taman Nasional Alas Purwo dan Baluran. Ini menyerupai potret suasana di Afrika dengan pemandangan gurun lapangan luas dan hewan-hewan liar berkeliaran. Atau sekadar menyatu dengan alam di berbagai pantai yang tersebar di sepanjang pesisir selatan Banyuwangi.

Termasuk di antaranya Pulau Merah yang terletak di Kecamatan Pesanggaran. Ia menjadi tempat berlabuh bagi para peselancar pemula dengan ketinggian ombak sekitar dua meter dan memiliki pemandangan matahari terbenam yang cantik. Sementara bentangan tebing setinggi 200 meter di hadapan pantai disebut-sebut mirip pantai di Brasil.

Mengunjungi Pulau Merah pun menjadi sebuah alternatif jika menuju Taman Nasional Meru Betiri berhubung posisinya yang masih searah jika dari pusat kota Banyuwangi. Taman Nasional Meru Betiri, yang terkenal sebagai tempat penangkaran penyu, kini juga memiliki idola baru, yakni Teluk Hijau yang tersembunyi di balik tebing tinggi tak jauh dari Pantai Rajegwesi.

Belum dua tahun dibuka untuk umum, Teluk Hijau bisa diakses langsung dari Pantai Rajegwesi dengan menyewa perahu seharga Rp 35 ribu per orang (PP). Namun, lebih seru melalui jalur darat. Pengunjung wajib menggunakan kendaraan tipe 4WD jika menelusuri taman nasional ini berhubung medan yang terjal dan berbatu. Kendaraan bisa masuk hingga titik terakhir jalur kendaraan menuju Teluk Hijau. Lalu, perjalanan dilanjutkan berjalan kaki.

“Lurus ikuti jalan, nanti ambil haluan ke barat,” demikian saran yang dititipkan. Perjalanan pun berganti dengan jalan setapak masuk hutan, meniti jalanan curam di antara batu karang dan akar-akar pohon yang menjalar ke setiap sudut.

 
Hingga akhirnya tiba di tepi pantai berbatu yang mengarah ke sebuah tebing dengan celah mungil, Teluk Hijau pun di depan mata. Disambut sapaan angin laut dari balik tebing tinggi yang memeluk teluk dan tampilan warna hijau segar air laut yang berpadu apik dengan pasir putih sepanjang pantai.

Banyak cerita menanti di kota ini. Pastikan sediakan waktu cukup jika ingin menikmati beberapa titik sekaligus, berhubung membutuhkan waktu tempuh yang tak sedikit untuk menikmati satu eksotisme ke eksotisme Banyuwangi yang lain.

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2015/03/12/151200527/Relung.Sisi.Banyuwangi

Tidak Selamanya Buruk, Sandal Jepit Boleh Saja Dipakai Asal...


Para ahli memang mengatakan bahwa sandal jepit bukanlah alas kaki yang baik. Namun tidak bisa dipungkiri, sandal jepit begitu populer karena praktis, merakyat dan cocok dipakai dalam suasana santai. Kapan sandal jepit boleh dipakai?

"Sehari-hari bolehlah untuk dipakai di rumah tapi tidak disarankan kalau dipakai untuk jalan jauh atau berlari," kata dr Haidir Suleiman, MM, SpRM, pakar kesehatan dari departemen rehabilitasi RS Puri Indah, seperti ditulis Rabu (14/8/2013).

Menurut dr Haidir, sandal jepit kurang memberikan support dan protection pada kaki sehingga tidak terlalu dianjurkan. Tidak ada batasan mengenai berapa lama seseorang diperbolehkan memakai sandal jepit, yang jelas sebisa mungkin sebaiknya dihindari.

Catatan khusus diberikan oleh dr Haidir untuk pada lansia yang ingin mengenakan sandal jepit, khususnya bila memiliki diabetes. Menurutnya, kaki para pengidap diabetes biasanya baal dan terasa tebal sehingga butuh perlindungan karena jika terluka tidak akan terasa.

Hal senada juga disampaikan oleh dr Meidy H Triangto, SpKFR dari Kid's Foot Rehabilitation Center RS Mitra Keluarga kelapa Gading. Menurut dr Meidy, sandal jepit tidak melindungu kaki bagian atas dan tumit sehingga tidak dianjurkan, khususnya bagi anak dalam masa pertumbuhan.

Pada anak-anak, sandal jepit sering menyebabkan luka di sela-sela ibu jari dan telunjuk kaki. Belum lai karena bagian belakangnya tidak memegangi tumit, sandal jepit sering menyebabkan anak-anak 'keserimpet' saat berjalan. Sepatu sport lebih dianjurkan untuk anak-anak.

"Kalau mau dipakai ya sekali-sekali di rumah atau di pantai," kata dr Meidy yang lebih menyarankan sandal jepit berbahan karet agar tidak terlalu melukai kaki.

Itu pun, menurutnya kalau memang terpaksa sekali harus memakai sandal jepit. Selagi ada pilihan lain yang lebih memberikan support dan protection pada kaki, sebaiknya tidak menggunakan sandal tersebut sebagai alas kaki.

Sumber : http://health.detik.com/read/2013/08/14/145351/2329613/775/tidak-selamanya-buruk-sandal-jepit-boleh-saja-dipakai-asal?l771108bcj

Way Kambas, Taman Nasional Tertua di Indonesia


Taman Nasional Way Kambas (TNWK) merupakan Taman Nasional tertua di Indonesia. Taman Nasional ini terletak di ujung selatan Sumatera atau 110 km dari Bandar Lampung. TNWK adalah salah satu Taman Nasional pertama dan tertua di Indonesia. Taman Nasional ini menempati 1.300 km persegi dari hutan dataran rendah pantai sekitar Sungai Way Kambas di pantai timur Provinsi Lampung.

TNWK dikenal dengan konservasi gajah, karena selain menjadi tempat perlindungan bagi gajah sumatera, taman nasional ini juga dikenal sebagai tempat latihan mereka.

Way Kambas didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1937 sampai sekarang masih terjaga sebagai Taman Nasional dan di sini diyakini ada sekitar 200 gajah sumatera (Elephas maximus sumatranensis) hidup di dalam Taman Nasional.

Gajah sumatera merupakan salah satu dari tiga subspesies yang diakui dari gajah asia, yang merupakan hewan asli dari Pulau Sumatera. Perbedaan secara umum, gajah asia lebih kecil dibandingkan dengan gajah afrika. Di antara gajah asia, gajah sumatera merupakan yang terkecil, dengan ketinggian bahu berkisar antara 2 meter dan 3,2 meter.

Namun saat ini sangat susah untuk memperkirakan jumlah mereka karena perambahan dan perluasan lahan hutan semakin tidak terkendali.

Pembentukan awal taman nasional ini bertujuan untuk melindungi keberadaan gajah dan pada saat yang sama menciptakan saling menguntungkan untuk kedua gajah dan manusia.

Pusat pelatihan juga mengingatkan pada saat raja atau sultan memerintah Sumatera, ketika gajah dilatih dan dikerahkan dalam perang dan juga untuk tujuan seremonial. Gajah melakukan berbagai tugas seperti mengangkut kayu atau membajak sawah. Namun sekarang di TNWK pengunjung dapat melihat gajah melakukan kegiatan seperti bermain sepak bola atau pertunjukan menghibur lainnya. Di TNWK berdiri Rumah Sakit khusus gajah yang terbesar di Asia.

Selain konservasi gajah, di sini juga terdapat konservasi badak sumatera dan ada fasilitas Rhino Sanctuary. Sayangnya untuk bisa dapat melihat badak sumatera ini pengunjung harus punya izin khusus sebelumnya. Pengunjung atau wisatawan biasa tidak bisa melihat penangkaran alami badak sumatera ini.

Selain itu TNWK juga rumah bagi banyak flora eksotis. Diantaranya adalah: api-api (Avicennia marina), Pidada (Sonneratia sp), nipah (Nypa fruticans), Gelam (Melaleuca leucadendron), salam (Syzygium polyanthum), Rawang (Glochidion borneensis), ketapang (Terminalia cattapa), cemara laut (Casuarina equisetifolia), pandan (Pandanus sp), puspa (Schima wallichii), meranti (Shorea sp), minyak (Dipterocarpus gracilis), dan ramin (Gonystylus bancanus).

Izin untuk masuk ke TNWK dapat diperoleh di pintu gerbang. Selain datang langsung juga dapat diperoleh dari HQ konservasi di Bandar Lampung. Fasilitas utama yang ditemukan di dekat taman nasional yang terletak 500 meter dari pintu masuk di sebuah tempat bernama Satwa Sumatra Elephant Eco Lodge.

BARRY KUSUMA Taman Nasional Way Kambas
Terletak di sebuah taman berdinding yang luas penuh dengan pohon buah-buahan tropis, tempat ini menawarkan empat cottage masing-masing dengan kamar luas yang dapat menampung hingga empat orang dengan tempat tidur, kipas langit-langit, mandi air panas dan toilet.

Menuju TNWK bisa ditempuh 2 jam perjalanan darat dari Kota Bandar Lampung. Jalan menuju ke sini cukup bagus dan jika Anda membawa mobil pribadi bisa kurang dari 2 jam.

Jika Anda menggunakan transportasi umum, rute yang paling sederhana adalah mengambil bus dari Rajabasa di Terminal di Bandar Lampung ke arah Way Jepara. lalu turun di gajah batu di Desa Rajabasa Lama, Way Jepara.

Selanjutnya menggunakan ojek atau sepeda motor ke Way Kanan atau Pusat Pelatihan Gajah (PLG) yang merupakan pintu masuk ke TNWK. Perlu diketahui bahwa bus yang menuju langsung jam terakhir kembali ke Rajabasa itu adalah pukul 15.00 WIB.

BARRY KUSUMA Taman Nasional Way Kambas
Di Pusat Pelatihan Gajah (PLG), ada atraksi gajah yang dilakukan rutin setiap sore dengan pertandingan dan khusus sepak bola gajah yang diadakan setiap weekend.

Anda juga bisa menaiki gajah berputar dan masuk ke dalam hutan dengan pawangnya. Dengan trip seperti ini jika beruntung Anda akan bertemu dengan gajah-gajah liar yang banyak terdapat di TNWK.

Di TNWK para wisatawan bisa mengenal lebih dalam tentang Konservasi Gajah. Di sini kita bisa banyak berinteraksi dengan gajah dan banyak bertanya tentang gajah ke pawang-pawang yang berada di taman nasional ini.

Tips buat pehobi fotografi

Banyak pehobi fotografi maupun wisatawan yang kecewa datang ke TNWK karena sampai di sana mereka hanya melihat sedikit gajah, padahal ada ratusan gajah di sini. Kebanyakan yang datang ke TNWK sudah siang. Padahal momen terbaik untuk melihat gajah-gajah ini adalah pagi hari sebelum jam 6 pagi. Pasalnya setelah jam 6 pagi pawang-pawang gajah ini melepaskan gajah ke padang rumput luas dan terpisah-pisah.

BARRY KUSUMA Taman Nasional Way Kambas
Sebelum dilepas gajah-gajah ini dimandikan dahulu di kolam dan sungai Way Kambas. Jika Anda datang sebelum jam 7 pagi selain bisa mengabadikan gajah pada saat sunrise juga bisa memotret puas gajah-gajah di pusat konservasi.

Selain pagi hari, momen terbaik juga bisa ditemukan pada sore hari menjelang sunset, karena gajah yang berada di savana dikumpulkan kembali ke lapangan oleh pawang-pawang. Anda bisa mengabadikan siluet gajah dan aktivitas mereka pada saat ini.

Ada baiknya Anda menginap semalam di TNWK sehingga momen di pagi hari dan sore hari dapat semua. Untuk memotret binatang yang bagus dibutuhkan waktu dan kesabaran. Kunci inilah yang membuat foto anda bagus.

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2014/02/03/1524254/Way.Kambas.Taman.Nasional.Tertua.di.Indonesia

Bukan Cuma High Heels, Beragam Alas Kaki Ini Juga Bisa Jadi Penyakit


Konon wanita yang mengenakan sepatu high heels terlihat lebih atraktif. Tapi lagi-lagi beauty is pain, karena ada konsekuensi kesehatan yang harus ditanggung wanita ini. Untuk itu memilih alas kaki yang tepat bukanlah hal sepele. Selain high heels, ternyata ada alas kaki lain yang bisa membahayakan kesehatan, apa sajakah itu?

"Sandal jepit, flat shoes, high heels itu semuanya bisa merubah bentuk kaki. Selain itu axis tubuh atau sumbu tubuh juga bisa berubah karenanya," tandas dr Haidir Suleiman, MM, SpRM dari departemen rehabilitasi medik RS Puri Indah Jakarta ketika dihubungi detikHealth seperti ditulis Rabu (14/8/2013).

Risikonya bisa beragam. Menurut sejumlah pakar, sandal jepit hanya didukung tali yang tipis sehingga jari-jari kaki harus bekerja ekstra dan model sandal ini memaksa tubuh bagian atas ikut bekerja keras yang pada akhirnya dapat melemahkan otot dari waktu ke waktu.

Sedangkan sepatu high heels dapat meningkatkan risiko osteoarthritis hingga enam kali lipat, menyebabkan kapalan, menambah ketegangan pada paha depan yang dapat meningkatkan risiko radang sendi serta memperpendek otot betis.

Lain sepatu berhak tinggi, lain juga sepatu flat. Bukannya lebih aman tapi risiko penggunaan flat shoes juga tak bisa diabaikan.

Sebab dukungan internal dari flat shoes terbilang kurang, karenanya kaki bagian bawah seperti tak punya pijakan dan dapat meregang secara berlebihan. Solnya yang kaku juga kerap memicu rasa sakit di tumit ketika digunakan untuk berjalan.

Selain ketiga contoh di atas, sepatu boots yang kerap disebut sepatu rocker juga tergolong sebagai alas kaki yang tak sehat. Mengapa demikian? Sol yang lebih tebal dari normal membuat telapak kaki si pemakai sepatu menjadi kaku sehingga kaki kurang menyerap beban dan lututlah yang akan kena batunya karena harus menanggung tekanan ekstra.
"Keluhannya yang paling sering ya mulai dari engkel, lutut, leher, sampai pinggang. Awalnya pegal-pegal terus lama-lama jadi deformitas (perubahan bentuk) dalam jangka waktu dua atau tiga tahun atau bahkan puluhan tahun," imbuh dr. Haidir.

Lalu bagaimana menyiasatinya? Menurut dr Meidy H Triangto, Sp.KFR dari Kid's Foot Rehabilitation Center RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta, flat shoes jangan terlalu datar. Sebaiknya cari flat shoes yang masih ada haknya meski hanya setinggi satu sampai dua centimeter.

Sedangkan untuk sandal jepit, dr. Haidir mengatakan tak ada batasan maksimal lamanya menggunakan sandal jepit dalam sehari misalnya. Hanya saja ia menyarankan agar sandal jepit tidak dipakai untuk perjalanan jauh atau berlari.

Meski dianggap paling berisiko, bukan berarti para pakar juga melarang penggunaan sepatu berhak tinggi sama sekali. Beberapa hal yang disarankan ketika memakai sepatu khas pekerja kantoran ini adalah saat berada di kantor, diusahakan sepatu dilepas dan waktu yang dihabiskan untuk berdiri atau berjalan dengan sepatu ini harus dikurangi.

Para wanita juga disarankan menghindari high heels dengan hak tipis. Lebih baik pakailah wedges karena akan membuat pijakan kaki lebih lebar dan stabil. Jika masih keukeuh, pilihan terbaik untuk high heels adalah yang haknya hanya setinggi satu-dua inci saja. 

Sumber : http://health.detik.com/read/2013/08/14/133026/2329485/775/bukan-cuma-high-heels-beragam-alas-kaki-ini-juga-bisa-jadi-penyakit