Kisah di Balik Lagu Hymne Guru

Siapa yang tak kenal lagu ini lirik hymne guru berjudul “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa“? Masih terngiang betapa di era 1980-an, lagu ini sangat sering dinyanyikan di sekolah-sekolah. Sebab setiap upacara bendera pada hari Senin, lagu ini selalu dinyanyikan.



Istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” bahkan kemudian menjadi ikon yang disematkan kepada para guru. Siapa sangka bila “sang pahlawan” yang tanpa tanda jasa itu sejatinya dialami si pencipta lagu tersebut. Ya, Sartono, pencipta lagu yang juga guru itu di masa senjanya hidup dalam kesederhanaan. Laki- laki asal Madiun yang genap berusia 72 tahun, 29 Mei ini, tinggal rumah sederhana di Jalan Halmahera 98, Madiun. Sejak ia mengajar musik di SMP Purna Karya Bhakti Madiun pada 1978, hingga “pensiun” pada 2002 lalu, Sartono tetap menyandang guru honorer. Ia tak punya gaji pensiunan, karena statusnya bukan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kawan-kawan sesama guru sempat membantu mengajukan dia menjadi PNS. “Katanya sih sering diajukan nama saya, tetapi sampai saya pensiun dari tugas sebagai guru, PNS untuk saya kok tidak datang juga,” kata Sartono.

Sartono memang minder dengan latar belakang pendidikannya yang tak tamat SMA. Ia mengajar di SMP Purna Karya Bhakti, yang belakangan lebih dikenal sebagai SMP Kristen Santo Bernadus, berbekal bakatnya di bidang musik. Sartono yang beragama Islam itu melamar di Santo Bernadus berbekal sertifikat pengalaman kerja di Lokananta, perusahan pembuat piringan hitam di Solo, Jawa Tengah.

Hidup serba dalam kesempitan, tak membuat Sartono meratapi nasib. Ia merasa terhibur, dengan kebersamaan dengan Damiyati, BA, 59 tahun, isterinya yang guru PNS. Damiyati dinikahi Sartono pada 1971. Dari pernikahan mereka belum jua dikaruniai anak. Sehingga mereka mengasuh dua orang keponakan. Damiyati yang juga guru, juga seniman biasa manggung bersama Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, di masa mudanya.

Kehidupan sehari-harinya kini hanya dari pensiun istrinya yang tak lebih dari dari Rp 1 juta. Sartono sendiri kala masih aktif mengajar, gajinya pada akhir pengabdiannya sebagai guru seni musik cuma Rp 60.000 per bulan. “Gaji saya sangat rendah, bahkan mungkin paling rendah diantara guru-guru lainnya,” katanya mengenang masa lalunya.

Kala masih kuat, Sartono menambal periuk dapurnya dengan mengajar musik. Sepekan sekali, Sartono yang pandai bermain piano, gitar, dan saksofon, ini rutin mengajar kulintang di Perhutani Nganjuk, sekira 60 kilometer dari rumahnya di Madiun.



BERMULA DARI LOKANANTA


Jalan menjadi guru berawal dari kegemarannya bermain musik. Putra sulung dari lima bersaudara ini sebenarnya lahir dari keluarga cukup berada. Maklum, ayahnya R. Soepadi adalah Camat Lorog, Pacitan. Sartono kecil memang suka bermain musik secara otodidak. Namun, hidup nyaman tak bisa dirasakan berlama-lama. Ketika ia berusia 7 tahun, Jepang menduduki Indonesia. Ayahnya pun tak lagi menjabat camat.

Sartono, bersama empat adiknya, Sartini, Sartinah, Sarwono dan Sarsanti, tak bisa mengenyam pendidikan tinggi. Ia sendiri putus sekolah kala kelas dua di SMA Negeri 3 Surabaya. Ia kemudian bekerja di Lokananta, perusahaan rekaman dan produsen piringan hitam. “Saya Lupa tahun berapa itu, tapi saya hanya bekerja selama dua tahun saja,” kata Sartono, yang mengaku sudah susah mengingat tahun.

Selepas kerja di Lokananta, Sartono bergabung dengan grup musik keroncong milik TNI AU di Madiun. Ia bersama kelompok musik tentara itu pernah penghibur tentara di Irian. “Di sana selama tiga bulan,” jelasnya.

DARI SECARIK KORAN

Ihwal penciptaan lagu himne guru itu boleh dibilang tak sengaja. Ketika itu, tahun 1980, Sartono tengah naik bis menuju Perhutani Nganjuk, untuk mengajar kulintang. Di perjalanan, secara tidak sengaja ia membaca di secarik koran, mengenai sayembara penciptaan lagu himne guru yang diselenggarakan Depdiknas. Hadiahnya besar untuk saat itu, Rp 750.000. Waktu yang tersisa dua pekan, untuk merampungkan lagu.

Sartono yang tak bisa membaca not balok ini, mulai tenggelam dalam kerja keras mengarang lagu saban harinya. “Saya mencermati betul seperti apa sebenarnya guru itu,” jelas Sartono sambil memulai membuat lagu itu.

Waktu sudah mepet, lagu belum juga jadi. Sartono pusing bukan kepalang. Syairnya masih amburadul. Pada hari pertama Hari Raya Idul Fitri, Sartono tidak keluar rumah. Ia bahkan tak turut beranjang sana mengantar istri dan dua keponakannya silaturrahmi ke orangtua dan sanak famili. “Saat itu kesempatan bagi saya untuk membuat lagu dan syair secara serius,” katanya. “Waktu itu saya merasa begitu lancar membuat lagu dan menulis syairnya.”

Awalnya, lirik yang ia ciptakan kepanjangan. Padahal, durasi lagu tak lebih dari empat menit. Sartono pun berkali- kali mengkajinya untuk mengetahui mana yang harus dibuang. “Karena panjang sekali, maka saya harus membuang beberapa syairnya,” jelas Sartono. Hingga muncullah istilah “pahlawan tanpa tanda jasa.”

“Guru itu juga pahlawan. Tetapi selepas mereka berbakti tak satu pun ada tanda jasa menempel pada mereka, seperti yang ada pada polisi atau tentara,” katanya.

Persoalan tak begitu saja beres. Lagu ada, Sartono kebingungan mengirimnya ke panitia lomba di Jakarta. Sebab ia tidak punya uang untuk biaya pengiriman via pos. “Akhirnya saya menjual jas untuk biaya pos,” katanya. Sartono menang. “Hadiahnya berupa cek. Sesampainya di Madiun saya tukarkan dengan sepeda motor di salah satu dealer,” kata Sartono.

PENGHARGAAN MINIM

Lagunya melambung, Sartono tidak. Sang pencipta tetap saja menggeluti dunia mengajar sebagai guru honorer hingga “pensiun.” Kalaulah ada penghargaan selain hadiah mencipta lagu, “cuma” beberapa lembar piagam ucapan terimakasih. Nampak piagam berpigura dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo yang diberikan pada 2005. Pak Gubernur juga memberikan bantuan Rp 600.000, plus sebuah keyboard.

Piagam lainnya diberikan Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin pada 2000. Kemudian piagam dari Menteri Pendidikan Nasional Bambang Soedibyo pada 2005, plus bantuan uang. “Isinya enam ratus ribu rupiah,” kata Sartono.

Tahun 2006 lalu, giliran Walikota Madiun yang dalam sepanjang sejarah baru kali ini memberikan perhatian kepadanya. “Pak Walikota menghadiahi saya sepeda motor Garuda,” kata Sartono seraya menunjuk sepeda motor pemberian Walikota Madiun.

Meski minim perhatian, Sartono tetaplah bangga, lagunya menjadi himne para guru. Pekerjaan yang dilakoninya selama 24 tahun. Pengabdian yang tak pendek bagi seorang pahlawan tanpa tanda jasa.


Sumber : http://forum.kompas.com/nasional/48001-kisah-tragis-dibalik-lagu-hymne-guru.html

Color Run, Lari Penuh Warna

Be Happy, Be Healthy, Be The First Runner! Ikuti ajang lari santai 5K terheboh dan terseru: The Color Run™! Jadikan lari santai ini bagian gaya hidup sehat, menyenangkan juga ajang spesial yang bakalan menambah warna baru di kehidupan kita di tahun baru 2014 ini.

IMG Worldwide dan Mesa Race selaku penyelenggara, bahagia melihat animo masyarakat Jakarta yang sudah tidak sabar ingin menjadi The Color Runners yang pertama di Indonesia. Terbukti penyelenggara kewalahan menampung mereka yang masih belum berkesempatan mendaftar. Para pelari dan pelari pemula ini akan merayakan kegembiraan, berbalur warna-warni saat berlari santai sejauh 5 kilometer di Parkir Timur Senayan – Jakarta pada hari Minggu, 26 Januari 2014.

The Color Run™ Jakarta sejak diluncurkannya di website menjaring banyak peserta lari santai 5K. Bahkan pendaftaran online sudah sold out! Tentu saja karena The Color Run ™ bukan sekadar ajang yang telah populer di berbagai belahan dunia namun juga peristiwa fenomenal. Para pelari akan bersama merayakan ajang lari pertama di 2014 ini dengan penuh kegembiraan dengan warna warninya membentuk sebuah kanvas bergerak dengan latar belakang musik yang akan membuat suasana semakin hidup.

Start putih tiba di garis finish penuh warna. Ajang ini juga akan menjadi ‘Festival Warna’ terakbar. Taburan bubuk warna yang menciptakan pelangi bakal terlihat cantik untuk diabadikan dalam foto dan tak terlupakan sepanjang masa.

Sebagaimana di berbagai kota lain di seluruh dunia, ajang ini seperti sebuah kotak raksasa crayon warna yang meledak di udara. Para peserta bergembira seolah merayakan kegembiraan berbaur di dalam langit penuh warna.

Akan lebih seru lagi dan sangat disarankan peserta mendaftar bersama komunitasnya, teman kantor, pasangan, keluarga tercinta. Ini akan membentuk keceriaan serta keunikan tersendiri.

Peserta kelompok maupun individual diperbolehkan memakai atribut sendiri yang membuatnya menjadi beda, misal kaos kaki warna-warni, aksesori kepala, gelang dan lainnya yang menjadi ciri kelompoknya. Selain itu, di tengah jalur juga tidak dilarang menciptakan kehebohan seperti menari, membuat gerakan flashmob, berularnaga, berloncat, bernyanyi, dan lainnya sebagai bentuk luapan kegembiraan.


The Color Run™ terbuka bagi semua orang. Acara ini memberi kesempatan para pelari pemula untuk berlari, gembira dan heboh. Yang terpenting bukan seberapa cepat Anda menyelesaikan jarak tempuh, namun memberi warna kehidupan dengan lebih seru dalam bentuk lari santai 5K yang menaburi warna. Untuk itu moto kita adalah “Putih di garis start penuh warna di garis finish”.

"Kami yakin The Color Run™ akan mendulang sukses di Jakarta mengingat semakin populernya olahraga lari di Indonesia dan masyarakat Jakarta yang dinamis. Acara ini memberikan pengalaman berlari yang unik dan beda, dan kami sangat gembira untuk membawa fenomena dunia ini ke Indonesia untuk pertama kalinya," ujar Mark Adams, Senior Vice President IMG Worldwide, Inc. ditulis Sabtu (11/01/2014).

Mulai di Amerika
The Color Run™ diluncurkan dan diselenggarakan pertama kali pada bulan Januari 2012 di Tempe, Arizona, Amerika Serikat. Awalnya, acara ini diselenggarakan berkeliling hanya di 18 kota di Amerika Serikat. Namun popularitas membawa acara ini berekspansi hingga 40 kota dan terus bertambah hingga kini.

Singapura merupakan negara tujuan pertama The Color Run™ di Asia. Ketika diluncurkan pertama kali, Singapura berhasil menjual seluruh tiket hanya dalam beberapa hari. Secara keseluruhan Singapura berhasil menjaring lebih dari 16 ribu peserta yang tersebar merata selama dua hari penyelenggaraan pada bulan Agustus lalu. Dalam laporan pasca acara mereka, banyak peserta yang sudah menginginkan diadakannya lagi The Color Run ™ dalam waktu dekat.

Sumber : http://health.liputan6.com/read/797404/color-run-ajang-lari-sambil-menabur-warna

Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok terjadi dikarenakan adanya perbedaan pendapat antara golongan muda dan tua tentang masalah kapan dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kejadian tersebut berlangsung tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1945. Golongan muda membawa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke rengasdengklok dengan tujuan untuk mengamankan keduanya dari intervensi pihak luar. Daaerah Rengasdengklok dipilih karena menurut perhitungan militer, tempat tersebut jauh dari jalan raya Jakarta-Cirebon. Di samping itu, mereka dengan mudah dapat mengawasi tentara Jepang yang hendak datang ke Rengasdengklok dari arah Bandung maupun Jakarta.

Kronologi Peristiwa Rengasdengklok

Soekarno-Hatta berada di Rengasdengklok selama satu hari penuh. Usaha dan rencana para pemuda untuk menekan kedua pemimpin bangsa Indonesia itu agar cepat-cepat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan tentara Jepang tidak dapat dilaksanakan. Dalam peristiwa Rengasdengklok tersebut tampaknya kedua pemimpin itu mempunyai wibawa yang besar sehingga para pemuda merasa segan untuk mendekatinya, apalagi melakukan penekanan. Namun, melalui pembicaraan antara Shodanco Singgih dengan Soekarno, menyatakan bahwa Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia setelah kembali ke Jakarta.
Peristiwa Rengasdengklok
Berdasarkan pernyataan Soekarno itu, pada tengah hari Shodanco Singgih kembali ke Jakarta untuk menyampaikan berita proklamasi kemerdekaan yang akan disampaikan oleh Soekarno kepada kawan-kawannya dan para pemimpin pemuda. Sementara itu, di Jakarta sedang terjadi perundingan antara Achmad Subardjo (mewakili golongan tua) dengan Wikana (mewakili golongan muda). Dari perundingan itu tercapai kata sepakat, bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta. Di samping itu, Laksamana Tadashi Maeda mengizinkan rumah kediamannya dijadikan sebagai tempat perundingan dan bahkan ia bersedia menjamin keselamatan para pemimpin bangsa Indonesia itu.

Akhir Peristiwa Rengasdengklok

Berdasarkan kesepakatan antara golongan pemuda dengan Laksamana Tadashi Maeda itu, Jusuf Kunto bersedia mengantarkan Achmad Subardjo dan sekretaris pribadinya pergi menjemput Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Sebelum berangkat ke Rengasdengidok, Achmad Subardjo memberikan jaminan dengan taruhan nyawanya bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB. Dengan jaminan itu, komandan kompi Peta Cudanco Subeno bersedia melepas Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta beserta rombongan untuk kembali ke Jakarta. Rombongan tersebut tiba di Jakarta pada pukul 17.30 WIB. Itulah sejarah singkat peristiwa Rengasdengklok yang terjadi sebelum proklamasi kemerdekaan.

Sumber :  http://jagosejarah.blogspot.com/2014/09/peristiwa-rengasdengklok.html

Bahaya Minum Teh Setelah Makan

Saat makan di restoran, tidak jarang orang memesan teh manis atau teh botol sebagai teman makan siang. Padahal makan dibarengi dengan minum teh bisa menimbulkan bahaya kesehatan. Apa saja?

Berbagai teh telah dikenal khasiatnya dapat menyehatkan tubuh karena kandungan antioksidan yang baik untuk pembuluh darah. Namun minum sebaiknya jangan dekat-dekat waktu makan, apalagi bila dibarengi dengan makan.

"Orang Indonesia banyak makan makanan yang sifatnya inhibitor, seperti teh," jelas dr Widjaja Lukito, SpGK, PhD, staf pengajar di Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dalam acara Nutritalk 'Kesehatan Ibu Hamil: Membangun Landasan Bagi Kesehatan Masa Depan', di Kembang Goela, Plaza Sentral, Jl Jend. Sudirman, Jakarta, Selasa (28/1/2014).

Menurut dr Widjaja, makanan inhibitor maksudnya makanan tersebut dapat menghambat penyerapan nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Teh disebut inhibitor karena sifatnya yang dapat menghambat penyerapan zat besi.

"Teh menghambat penyerapan zat besi. Jadi, jangan makan dengan menggunakan teh. Teh itu harus diminum antara jam makan, misal 2 jam setelah makan, bukan pas makan," ujar Dr dr Dwiana Ocviyanti, SpOG (K), dari Departemen Obstetri Ginekologi FKUI/RSCM.

dr Ovi menjelaskan kekurangan zat besi bisa membuat seseorang menderita anemia (kekurangan darah). Hal ini akan sangat berbahaya bila sampai terjadi pada ibu hamil, karena risikonya kesehatan jelas menghantui si bayi.

Anemia selama masa kehamilan dapat meningkatkan risiko sejumlah gangguan kesehatan pada bayi maupun ibunya. Risiko pada bayi misalnya persalinan prematur atau berat lahir bayi yang rendah, dan bayi lahir cacat pada tulang belakang atau otaknya (neural tube defects). Sedangkan untuk sang bunda, anemia dapat mengakibatkan postpartum depression alias depresi pasca persalinan.

 Selain makanan, penyakit infeksi seperti tuberkulosis (TB) juga dapat menghambat penyerapan nutrisi penting dalam tubuh. Sebab, kuman TB akan menggerogoti tubuh, sehingga ketika saat penderitanya makan, infeksi di dalam tubuhnya malah bersaing mengambil zat gizi.

Sumber : http://health.detik.com/read/2014/01/28/152906/2480782/1299/2/jangan-minum-teh-saat-makan-ini-bahaya-kesehatannya

Kenapa Laron Hanya Muncul Saat Musim Penghujan?


Musim hujan bisa dikatakan menjadi momen munculnya hewan-hewan tertentu, salah satunya laron. Laron biasanya muncul di musim hujan dan mengerumuni lampu atau cahaya. Mungkin nggak semua orang tahu kalau laron sebenarnya merupakan hewan yang sama dengan rayap. Iya, rayap yang suka merusak kayu-kayu di rumah itu. Laron merupakan fase dewasa dari kasta reproduktif rayap. Habitat rayap ada di dalam tanah, hewan ini termasuk hewan sosial yang hidupnya beramai-ramai dan membentuk koloni. Dalam dunia rayap, ada yang namanya kasta. Ada kasta reproduktif, kasta prajurit, dan kasta pekerja. Hampir sama seperti semut, dalam koloni rayap juga ada raja dan ratu rayap.

Ketika hujan turun, air hujan membasahi tanah dan membuatnya menjadi lembab. Karena udara di dalam tanah menjadi lembab, maka rayap-rayap bersayap alias laron beterbangan keluar mencari cahaya dan kehangatan. Laron-laron ini punya misi untuk mencari pasangannya. Ada sebuah dongeng tentang laron ini. Ketika musim hujan tiba, raja dan ratu rayap di dalam tanah berpesan kepada para laron yang akan dilepas keluar. Mereka akan diterbangkan menuju bulan, bulan yang dimaksud adalah lampu yang terang. Di bulan, akan ada pesta pencarian jodoh. Para laron single ini akan berjuang dari mulai keluar dari sarang di dalam tanah hingga mendapatkan pasangannya. Ada banyak rintangan yang mereka hadapi, ketika baru keluar dari lubang tanah, mereka akan berdesak-desakan dan hal ini dapat menyebabkan sayap mereka patah. Jika sayap mereka patah, mereka tidak dapat terbang menuju “bulan”. Selain itu, masih ada kemungkinan mereka akan dimangsa hewan predator seperti cicak, kadal, dan katak. Bahkan, manusia juga ada lho yang makan laron. Laron dapat dibuat menjadi peyek lalu dimakan.

Nah, jika mereka berhasil menemukan pasangannya, maka sayap mereka akan lepas karena sudah tidak dibutuhkan lagi kemudian mereka akan menuju lubang tanah untuk berbulan madu. Pasangan laron ini akan membentuk koloni baru dan mereka menjadi raja dan ratu laron dalam koloni tersebut. Sedangkan yang gagal menemukan pasangannya di kerumunan cahaya lampu itu, akan segera mati ketika fajar menyingsing. FYI, laron memang memiliki umur yang sangat pendek. Laron hanya berumur kurang lebih satu hari untuk mendapatkan pasangan kemudian melanjutkan fase hidupnya. Begitulah kisah perjuangan laron mencari pasangan untuk mempertahankan hidupnya dan membentuk koloni baru


Menguak Warna Api


Api tak lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Untuk menghasilkan makanan yang kita nikmati setiap hari, tentu membutuhkan api. Jika kita menggunakan kompor gas, biasanya api yang muncul berwarna biru.
 Namun, jika kita menyalakan api menggunakan korek api, umumnya api yang muncul berwarna oranye kekuningan. Nah, mengapa api bisa berbeda-beda warnanya ya?

Api terjadi dari reaksi pembakaran senyawa yang mengandung oksigen (O2). Jika suatu reaksi pembakaran kekurangan oksigen, maka efisiensi pembakaran berkurang dan menghasilkan suatu senyawa karbon seperti asap atau jelaga. Lilin yang mati karena ditutup dengan gelas juga merupakan contoh reaksi yang kekurangan oksigen. Reaksi pembakaran merupakan reaksi oksidasi, yaitu reaksi yang mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Ini artinya, reaksi pembakaran selalu melepaskan elektron. Ketika suatu reaksi melepaskan elektron, maka terjadi pelepasan energi. Hal ini juga terbukti dengan nilai entalpi energi reaksi pembakaran yang selalu negatif. Entalpi energi adalah jumlah energi dalam suatu sistem dengan tekanan tetap. Sebenarnya yang diukur adalah perubahan entalpi dalam suatu reaksi kimia, sedangkan entalpinya sendiri tidak dapat diukur.

Faktor yang mempengaruhi warna nyala api adalah faktor fisika (yaitu suhu) dan faktor kimia (yaitu zat yang megalami reaksi). Api merah umumnya bersuhu di bawah 1000 derajat celsius. Api biru, bersuhu lebih tinggi dari api merah, tapi masih di bawah 2000 derajat celcius. Kemudian api yang lebih panas, api putih yang bersuhu di atas 2000 derajat celcius. Api ini juga yang terdapat di dalam inti matahari. Api putih juga digunakan pada industri yang memproduksi material besi dan sejenisnya. Api yang paling panas adalah api hitam (dan konon katanya merupakan jenis api yang terdapat di neraka).

Kalau kamu amati nyala api pada lilin, pada bagian pangkal api akan terlihat nyala api yang nyaris transparan. Nah, api inilah yang disebut api hitam karena pada spektrum warna cahaya, warna hitam didefinisikan sebagai ketiadaan cahaya, maka pada api terlihat transparan. Warna api juga dipengaruhi oleh zat yang mengalami reaksi pembakaran. Pada pembakaran sodium akan menghasilkan warna oranye, pembakaran stronsium klorida mengahasilkan warna merah,  pembakaran kalium nitrat menghasilkan warna ungu, pembakaran boron menghasilkan warna hijau, pembakaran tembaga menghasilkan warna biru, dan sebagainya.

Nah, begitulah mengapa api bisa berwarna-warni. Metode ini juga yang digunakan dalam teknologi pembuatan kembang api. Kembang api dapat memancarkan api dengan warna-warni yang indah karena merupakan campuran berbagai macam unsur kimia yang akan memberikan warna-warna berbeda jika mengalaim reaksi pembakaran.

 Sumber : http://sains.me/1735/menguak-warna-warni-nyala-api.html/

Kenapa Kertas Menguning?


Kamu suka membaca buku, majalah, atau koran? Jika kamu termasuk orang yang gemar membaca, pasti kamu memiliki sangat banyak koleksi buku maupun majalah. Mungkin kamu juga masih menyimpan koleksi buku-buku lama yang kamu miliki sewaktu kecil. Dulu kamu senang sekali membaca buku-buku tersebut, tetapi sekarang buku itu pasti sudah tidak nyaman lagi dibaca karena kertasnya berubah menjadi kekuningan. Sayang sekali ya, padahal isi bukunya bagus.

Eh tapi kok bisa ya kertas yang sudah lama warnanya akan berubah menjadi kekuningan? Beberapa hasil penelitian menunjukkan, menguningnya warna kertas ini ternyata diakibatkan oleh oksidasi. Tentu kamu tahu bahwa kertas terbuat dari batang pohon. Sel yang menyusun batang pohon ini tersusun beberapa molekul, di antaranya selulosa dan lignin. Selulosa adalah bahan penyusun dinding sel batang pohon, sementara lignin berfungsi untuk menjaga kekuatan dan kekerasan batang pohon. Saat batang pohon diubah menjadi kertas, kedua molekul ini juga ikut terbawa ke dalam kertas tersebut.
Selulosa terkait dengan warna putih dari sebuah kertas. Semakin banyak kandungan selulosa, warna kertas menjadi semakin putih. Sebaliknya, keberadaan lignin justru membuatnya semakin tidak putih, alias menguning. Seiring berjalannya waktu lignin ini akan teroksidasi oleh oksigen di udara dan pecah menjadi zat asam. Zat tersebut dapat menyerap sebagian gelombang cahaya. Akibatnya, warna cahaya yang dipantulkan oleh kertas itu menjadi lebih kuning dari sebelumnya. Semakin banyak lignin yang teroksidasi, warna kertas akan semakin kuning.

Tapi beruntunglah, saat ini sudah banyak teknologi canggih yang dapat digunakan untuk mengurangi kadar lignin dalam sebuah kertas putih. Hasilnya, suatu kertas menjadi lebih putih dan lebih tahan terhadap oksidasi sehingga tidak cepat menguning. Selain itu, kertas yang sudah menguning sebenarnya juga dapat diputihkan lagi dengan reaksi kimia yang dapat menetralkan kadar asam hasil oksidasi lignin dalam kertas tersebut. Kalau kamu masih tetap takut buku-buku lamamu menjadi kuning, sebaiknya simpan bukumu dalam tempat yang rapat dan kedap udara, sehingga akan memperlambat proses oksidasinya.

Sumber : http://sains.me/2240/kertas-menguning-tanya-kenapa.html/